Mengabadikan yang Fana

DR. KH. Abun Bunyamin, MA



Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebaikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya disisi tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(Q.S. Al-Kahfi: 46).

Ilmu yang paling berat kita cari adalah ilmu tentang ma’rifat kepada Allah, bukan ilmu fisika, kimiia, biologi, matematika, dan lain-lain. Sebab banyak ilmu tapi tanpa ma’rifat (mengenal Allah), maka ilmunya tidak membawa kebahagiaan dan kemaslahatan. Ilmu yang harus dipelajari oleh kita di yayasan Al Muhajirin adalah al-ilmu al-nafie’ (ilmu yang bermanfaat) yaitu ilmu yang semakin mendekatkan diri kepada Allah, mampu menjaga amanah, berakhlakul karimah, menyambungkan silaturahmi dan berbisnis untuk akhirat. 

Sabda Nabi: “Dunia itu untuk empat golongan: Pertama, seseorang yang diberi rizki dan ilmu maka ia pergunakan untuk bertakwa dan menghubungi sanak keluarga dan mengenal hak Allah didalamnya (dibayarkan zakatnya dan dipergunakan untuk kebaikan) maka orang itu dalam tingkat yang tertinggi. Kedua, seorang yang diberi ilmu tetapi tidak berharta maka dengan niat  yang sungguh-sungguh ia berkata: Kalau saya diberi harta pasti saya akan beramal sebagaimana si fulan maka ia mendapat pahala niatnya dan pahal kedua orang itu tidak berbeda-beda. Ketiga, seorang hamba yang diberi kekayaan tetapi tidak bertakwa dan tidak digunakan untuk menghubungi sanak keluarga juga tidak mengenal hak Allah didalamnya, maka orang ini ada pada sejahat-jahatnya tempat. Keempat, seseorang yang tiada diberi harta dan tiada berilmu lalu ia berkata: Andaikan saya mempunyai harta niscaya saya akan berbuat sebagaimana kelakuan si fulan, maka ia berhasil dengan niatnya, nilai timbangan keduanya sama dan tidak berbeda dalam timbangan dosanya.”(HR. At-Tirmidzi). 

Sayidina Ali ra. Waktu berkunjung ke rumah orang yang kaya raya dan rumahnya sangat bagus, ia berkata: “Hendaknya rumah ini terbawa ke akhirat caranya adalah dengan menjamu tamu dan memelihara silaturahmi  juga menjaga hak-hak Allah.” Menjaga hak-hak Allah diantaranya rumah yang kita pakai digunakan untuk menjalin cinta kasih dengan Allah lewat bangun di waktu malam. 

Dalam surat Al-Kahfi ayat 28 Allah berfirman yang artinya: “Dan besabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan sore hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” Nabi bersabda: “ketika anak adam meninggal yang akan abadi hanya tiga perkara yaitu ilmu yang bermanfaat,anak shaleh yang mendoakan untuk orang tuanya dan shadaqah yang mengalir pahalanya.”(HR.Bukhary Muslim).
Seseorang berkata: “ini hartaku ini hartaku.” Maka Rasulullah bersabda: “mana hartamu itu?harta yang kamu makan akan rusak,harta yang akan kamu pakai akan binasa,dan harta yang kamu shadaqahkan telah kamu abaikan.”(Al-hadist). Sesungguhnya engkau diciptakan untuk manusia dan manusia diciptakan untuk akherat.Pesan Nabi SAW.Kepada Fatimah putrinya yang tercinta saat sebelum tidur: “Fatimah jangan dulu engkau tidur sebelum menghatamkan Al-qur’an, mendapat syafa’at dari Nabi SAW, diampuni dosanya oleh semua mukmin dan beribadah haji ke baitullah. 

Caranya dengan membaca surat al-ikhlas sebanyak tiga kali pahalanya sama dengan menghatamkan Al-qur’an,membaca istigfar sebelum tidur untuk mukminin dan mukminat maka kamu akan diampuni oleh mukminin dan mukminat, membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir maka akan mendapat pahala haji dan umroh, dan membaca shalawat kepada Nabi SAW. 

Maka akan mendapat syafa’at  Nabi SAW.”Harta yang berkah bisa menjaga lidah, menjaga farji, memelihara amanah, silaturahmi dan berbisnis dengan akhirat. Para ulama sufi berkata, bohong besar bicara cinta kalau tiba waktu malam tidak mau berdua-duaan untuk mencirahkan isi hatinya dengan yang dicintainya. Karena itu kalau kita mencintai Allah SWT, jangan tinggalkan malam untuk bermunajat kepada Allah SWT seolah-olah kita berdua dengan Allah SWT. Ditengah keheningan malam disertai dzikir malam dan qiyam li al-khair al-anam.

Simaklah ayat yang diatas, harta dan sanak keluarga itu tidak akan pernah abadi bahkan hanya hiasan sementara yang fana. Dunia dan segala perhiasannya akan abadi manakala semuanya bukan hanya untuk pemuasan pribadi tapi diproyeksikan pada sesuatu yang bermanfaat secara bersama-sama disertai dengan harapan agama.  

Kesenangan ini bukan hanya sekejap tapi kekal abadi di akhirat. Sabda Nabi SAW:”Dunia itu tanaman akhirat.” Sekarang saat bercocok tanam dan berpayah-payahan agar kelak bisa panen di akhirat lewat kesuksesan dalam mendidik agama pada anak, mereka memperoleh ilmu yang bermanfaat dan kalau mempunyai harta bershadaqahl untuk agama Allah SWT. 

Para ulama tafsir dalam menafsirkan ayat diatas, ada yang mengartikan al-baaqiyaat al-shaalihaat adalah shalat fardu, qiyam al-lail, shadaqah, akhlakul karimah, dan membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Menurut saya semua penafsiran  itu bagus dan saling melengkapi karena semua kebaikan tersebut lebih besar pahalanya dan lebih kekal manfaatnya. Demikian diantara cara mengabadikan yang fana(rusak). Salah satu cara mengabadikan yang fana menjadikan aktifitas dalam kondisi ingat kepada Allah. 

Aktifitas apapun yang kita lakukan harus interaktif yang intensif dengan Allah SWT tidak perbalistik, simbolistik dan tidak formalistik. Itulah sebabnya setiap perintah atau larangan dalam al-Quran, baik bersifat thalibi atau khabari selalu ada asma dan sifat Allah diakhir ayatnya atau terdapat pujian bagi yang bertakwa, bersabar dan bertawakal kepada-Nya. Bahkan perintah bertakwa  dan rasa takut sering diulang-ulang walaupun dalam satu ayat Al-Quran. Yang lainnya  adalah ketulusan dan kesucian hati. 

Hati harus bersih dari penyakit riya dan hasud, ditunjukan peribadahan itu kepada pencapaian pahala diakhirat yang kekal. Dan yang paling dominan mengabadikan yang fana adalah mengeluaran hartanya untuk wakaf yang bermamfaat di jalan Allah seperti masjid, madrasah dan sarana Agama lainnya. Wa Allahu a’lamu bi al-shawab.

Oleh : DR. KH. Abun Bunyamin, MA (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin)

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

close