Bale Panyawangan Purwakarta

BALE PRABU NISKALA WASTUKENCANA, Masuk ke ruang Bale Prabu Niskala Wastukencana yang berfungsi sebagai ruang pembuka, kita akan disambut dengan Tangga Cinta Purwakarta, atau hall of fame, delapan pemimpin Purwakarta dari awal hingga yang terakhir, Kang Dedi Mulyadi. Di Bale Prabu Niskala Wastukencana ini juga kita dapat melihat gambar daerah-daerah wisata yang tersebar di berbagai daerah Purwakarta dari mulai Waduk Cirata hingga areal wall climbing, Gunung Parang. Di Bale Prabu Niskala Wastukencana juga terdapat peta interaktif (virtual tour) yang menjelaskan perihal museum Bale Panyawangan.

Pariwisata, Jatiluhuronline.com - Belajar sejarah dengan cara berkunjung ke museum seringkali menjadi kegiatan yang kurang menarik. Bagi kebanyakan orang, baru membayangkannya saja menjadi hal yang membosankan. Jarang sekali ada yang memang sengaja datang ke museum untuk meluangkan waktu, kecuali karena tuntutan tugas. Namun, lain ceritanya jika Sahabat Purwakarta berkunjung ke Museum Bale Panyawangan Diorama.

Museum Bale Panyawangan Diorama yang dari segi namanya berarti ‘tempat untuk menerawang’ ini terletak di pusat kota Purwakarta, berjarak sekitar lima ratus meter dari kantor bupati. Museum ini menyajikan beragam literatur sejarah tentang Republik Indonesia pada umumnya, serta Purwakarta khususnya. Penyajiannya tidak sebatas tulisan, tapi juga berbentuk arsip dan seni, lantas dikemas dengan konten yang hampir semuanya serba digital. Ada video-video yang menampilkan cuplikan pidato para presiden Republik Indonesia, juga foto-foto para bupati yang pernah menjabat di Purwakarta; ada buku digital yang menampilkan gambar bergerak disertai suara narasi yang berbeda-beda setiap kali kita membalik lembar. Selain itu, Sahabat Purwakarta juga bisa berkeliling Purwakarta menggunakan sepeda onthel yang berbentuk simulator dan berfoto bersama bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi (dalam bentuk virtual).

Jika masih terasa kurang, ada juga teater kecil yang menjelaskan tentang sejarah kota yang dulunya bernama Sindang Kasih ini. Nah, sebelum sebelum menikmati tontonan sejarah Purwakarta di teater Museum Bale Panyawangan Diorama, ada ritual unik yang mengharuskan kita bergoyang. Nama goyangannya adalah, Goyang Maranggi, goyangan khas Purwakarta. 

Salah satu kesungguhan suatu bangsa dilihat dari caranya menghargai, menyimpan, dan menjaga catatan peristiwa panjang sejarah pembentukan negaranya. Dan Bale Panyawangan Diorama merupakan pembuktian bagaimana puing-puing sejarah Kabupaten Purwakarta mampu dikemas dalam bentuk yang futuristik, unik, menarik, dan pastinya bisa dinikmati oleh khalayak ramai. 

Bagaimana? Masih menganggap museum adalah tempat yang membosankan? Kami menantang Sahabat Purwakarta untuk singgah di Museum Bale Panyawangan Diorama dan belajar tentang cerita Purwakarta dari masa ke masa, sambil menikmati keseruan di dalamnya. Jangan khawatir, Museum Bale Panyawangan Diorama terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya apa pun. (Purwakarta Tourism)



Bale Ki Pamanah Rasa merupakan bagian terakhir dari museum ini. Bale ini berisi koleksi pewayangan yang ada di tatar Sunda. Selain itu, Bale Ki Pamanah Rasa juga menampilkan Digjaya Purwakarta Istimewa tahun 2008-2018.
Bale Prabu Dewaniskala menggambarkan Purwakarta sejak tahun 1620 hingga tahun 1799. Uniknya, cerita sejarah di bale ini disajikan dalam bentuk buku interaktif. Buku ini akan mengeluarkan film dan narasi yang berbeda-beda setiap kita membuka halaman. Ini menjadi hal menarik bagi para pengunjung, apalagi mereka yang menganggap buku sejarah membosankan. Disuguhkan cerita tentang Purwakarta dari zaman Kerajaan Sunda, VOC, kemudian Hindia Belanda dalam bentuk audio visual di atas media buku tentu memberi persepsi baru tentang sejarah, yang tentu saja menyenangkan.
Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana berlokasi di muka Bale Panyawangan. Bale ini bercerita tentang sejarah Kerajaan Sunda dari mulai era Tarumanegara hingga masa di mana Kerajaan Sunda membuat perjanjian dengan pihak Portugis. Penjelasan tentang raja-raja kuno, dari raja pertama hingga terakhir, dan perjalanan mereka dalam pembentukan Kerajaan Sunda, tersemat di atas replika prasasti, salah satunya Prasasti Pasir Awi
Bale Prabu Ningratwangi, menyajikan kronologis peristiwa Ranca Darah. Peristiwa pemberontakan para buruh tani terhadap penjajah disajikan dalam bentuk diorama. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1832 di Pasir Panjang, Wanayasa. Di Bale Prabu Ningratwangi juga terdapat deskrit perubahan nama Sindangkasih menjadi Purwakarta.
Bale Prabu Ratudewa kita akan disajikan keadaan Purwakarta pada masa kemerdekaan di tahun 1945-1950, mulai peristiwa Rengasdengklok hingga zaman Demokrasi Liberal. Wajah Bung Karno dan Bung Hatta menghiasi tembok ketika kita masuk Bale Prabu Ratudewa. Di Bale ini juga proses proklamasi kemerdekaan pun diceritakan dalam bentuk film stop-motion. Ada juga video lagu Indonesia Raya versi awal yang memiliki tiga stanza berbeda.
Sepeda Onthel, Teknologi dipadu padan dengan sesuatu yang vintage, mengapa tidak? Di Diorama Bale Panyawangan, Sahabat Purwakarta dapat mengayuh sepeda onthel yang berbentuk simulator untuk berkeliling Purwakarta, secara digital tentunya. Penasaran untuk mencoba? Mari berkunjung ke Diorama Bale Panyawangan. Karena menikmati sejarah tak harus membosankan.
Teather Mini, Sudah lelah berkeliling Bale Panyawangan? Mari duduk sejenak di teater mini sebagai sajian terakhir. Di dalam teater mini, kita akan disuguhkan sejarah Purwakarta, baik berupa foto maupun video. Jika Sahabat Purwakarta sedang beruntung, Sahabat Purwakarta akan diajak bergoyang bersama. Goyangnya bernama Goyang Maranggi, goyangan khas Purwakarta.

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER