Jual Sebelum Panen, Petani Cengkeh di Purwakarta Keluhkan Harga Cengkeh Tak Menentu

PURWAKARTA, JATILUHURONLINE.COM - Para petani cengkeh di Purwakarta mengeluh dengan kondisi harga cengkeh saat ini tidak menentu, hingga terpaksa menjual hasil produksinya sebelum panen. Hal tersebut dilakukan karena harga cengkeh terus menurun. 

Melansir dari pikiran-rakyat.co.id, harga cengkeh kering yang ditawarkan tengkulak dinilai lebih rendah dari harga tahun lalu yang mencapai hampir Rp 90.000 per kilogram.

"Harga cengkeh basah sekarang Rp 21.000 per kilogram. Yang kering Rp 70.000 per kilogram. Kalau kuintalan bisa Rp 72.000," kata Enjang petani cengkeh di Kecamatan Kiarapedes, Selasa, (9/7/019).

Menurutnya, harga jual cengkeh bisa lebih tinggi apabila dijual langsung ke perusahaan. Namun, perusahaan seperti pabrik rokok biasanya hanya akan membeli dalam jumlah besar. Sedangkan, rata-rata petani hanya menanam dalam jumlah kecil, ditanam di kebun campuran atau halaman rumah warga.

"Jumlah produksi berbeda-beda tergantung usia pohonnya. Ada yang baru berbuah usia delapan tahun sekitar lima kilogram cengkeh basah. Kalau yang usia 40 tahun mungkin sampai 50 kilogram," ujar Enjang.

Tahun ini, panen cengkeh di Purwakarta memasuki panen raya yang hanya terjadi 5 tahun sekali dan diperkirakan berakhir hingga bulan September 2019. 

"Hasil panen tahun ini terhitung lebih lebat atau panen raya. Panen raya katanya terjadi lima tahun sekali," kata Enjang.

Sebagian wilayah yang sudah memasuki panen saat ini baru 5 Kecamatan, yakni kecamatan Pasawahan, Pondoksalam, Kiarapedes dan Wanayasa.

Sementara itu, dari data Dinas Pangan Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Purwakarta pada 2018 lalu, terdapat 1.838 hektare perkebunan cengkeh dengan hasil produksi sekitar 486 ton per tahun dan harga jual rata-rata Rp 90.000 per kilogram.

Kepala Seksi Hortikultura Purwakarta Tatang Sopian mencatat jumlah petani cengkeh saat ini mencapai 2.378 orang, dengan banyaknya para petani cengkeh itu, pihaknya mengaku belum ada program bantuan khusus untuk para petani, sehingga produksi cengkeh di Purwakarta masih belum maksimal. 

"Upaya peningkatan hasil produksi cengkeh belum maksimal karena tidak ada program bantuan khusus dari pemerintah," ujarnya.

Pemerintah daerahnya selama ini hanya memberikan pelatihan kepada para petani cengkeh untuk memaksimalkan potensi yang ada. Salah satunya, memberikan pemahaman mengenai penyakit jamur akar akibat penanaman di kebun campuran.

"Jamur akar bisa menyebabkan tanaman mati bahkan tumbang. Itu risikonya kebun campuran, jadi jamurnya banyak inang dan beragam. Yang paling terpengaruh itu (pohon) yang tua," kata Tatang. Karena itu, para petani diminta membersihkan kebun dari rumput liar secara rutin. (pr/jto/mh)

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER