7 Mitos Kehamilan dan Ovulasi

Alat tes kehamilan (test pack), alat mendeteksi respons adanya hormon human chorionic gonadotrophin—hCG—di dalam urin. Hormon ini dilepas saat telur yang sudah dibuahi mengendap di dalam uterus, biasanya pada hari ke-8-10 setelah konsepsi terjadi (bahkan bisa di antara hari ke-6-12.
Kesehatan, Jatiluhuronline.com- Masalah kehamilan dan ovulasi cukup sensitif di kalangan pasangan yang baru saja menikah atau mereka yang belum juga diberi momongan. Berbagai isu atau kabar tidak benar sering berseliweran dan menyebabkan rasa takut atau kesalahpahaman yang cukup besar. Akibat hal ini banyak sekali pasangan yang akhirnya salah jalan.

Nah, agar masalah kehamilan dan juga ovulasi ini tidak menyebabkan seseorang jadi salah persepsi dan tidak mendapatkan kehamilan. Ada baiknya kita meluruskan satu-satu mana saja yang merupakan mitos dan bagaimana fakta yang sesungguhnya sehingga kita bisa lebih paham.

Berikut beberapa mitos tentang kehamilan dan ovulasi yang sering dipercaya oleh banyak masyarakat.

1. Tidak hamil setelah dua bulan berarti ada yang mandul

Faktanya, pasangan bisa hamil dalam enam bulan pertama memiliki persentase sekitar 68 persen. Sementara itu setelah menikah setahun kemungkinannya bisa meningkat hingga 90 persen. Yang perlu dikhawatirkan adalah saat Anda sudah menikah setahun dan belum juga ada tanda kehamilan.

2. Masa subur datang pada hari ke-14 pasca menstruasi

Masa subur tidak selalu 14 hari setelah menstruasi. Pada wanita yang memiliki siklus menstruasi pendek bisa kurang dari itu sementara pada wanita yang siklusnya panjang bisa lebih dari itu.

3. Tidak bisa hamil kalau melakukan seks ketika menstruasi

Sperma bisa hidup di dalam tubuh wanita selama 5 hari. Kalau wanita dengan siklus menstruasi pendek bercita di akhir siklusnya, kemungkinan hamil tetap ada. Pasalnya saat sel telur keluar, sperma masih bertahan hidup di tuba falopi dan bisa langsung melakukan pembuahan.

4. Kehamilan bisa terjadi kalau bercinta setelah ovulasi muncul

Umur dari ovarium hanya 12-24 jam setelah dikeluarkan. Kalau pasangan telat melakukan seks, kemungkinan kehamilan tidak akan terjadi. Oleh karena itu melakukan seks 1-2 hari sebelum masa ovulasi lebih disarankan.

5. Bercinta setiap hari bisa mempercepat kehamilan

Bercinta setiap hari hanya akan membuat pasangan capai. Pria juga tidak bisa menghasilkan sperma dalam jumlah banyak dan berkualitas. Biasanya seks dianjurkan untuk dilakukan setiap 2-3 hari sekali agar jumlah sperma yang dihasilkan bisa maksimal. Selain itu sel telur juga tidak dikeluarkan setiap hari.

6. Bisa ovulasi sama artinya dengan bisa hamil

Saat ovulasi wanita akan mengeluarkan sel telur ke tuba falopi. Saat sel telur keluar, kesempatan untuk mendapatkan kehamilan akan tinggi. Namun, memiliki sel telur saja tidak akan secara otomatis membuat wanita hamil. Ada beberapa faktor yang memengaruhi bisa atau tidaknya wanita mengalami kehamilan.

Pertama sperma yang ikut masuk ke dalam tuba falopi. Kalau spermanya tidak sehat dan berkualitas, pembuahan akan gagal. Selain itu kalau di area rahim ada masalah seperti endometriosis atau mioma, kemungkinan kehamilan juga akan rendah.

7. Kontrasepsi memicu kemandulan

Fungsi dari alat kontrasepsi adalah mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Dengan menggunakan kontrasepsi entah itu pil atau IUD, sperma akan ditahan untuk masuk ke dalam tuba falopi. Akhirnya pembuahan tidak akan terjadi dan Anda aman meski melakukan seks dan mendapatkan ejakulasi di dalam tubuh.

Setelah alat kontrasepsi di lepas, seorang wanita akan subur kembali dan bisa hamil. Mitos yang mengatakan wanita menjadi tidak subur adalah salah kaprah karena kesuburan akan berangsur-angsur kembali.

Dari tujuh mitos tentang kehamilan di atas, mana saja yang sering Anda dengar atau mungkin dipercayai? Semoga setelah mengetahui hal di atas, kita bisa lebih bijak dalam menyaring informasi.
sumber : doktersehat

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

0 Response to "7 Mitos Kehamilan dan Ovulasi"

Posting Komentar