Kisah Inspirasi : Guru Bahasa Inggris Mengajar di Lembaga Pendidikan Non Formal

Bekasi, Jatiluhuronline.com - Sebuah kisah para pendidik yang bertahan dan terus berjuang dengan idealismenya tentang pendidikan karakter. Anak diajarkan tentang arti kejujuran, empati, solidaritas, rasa tanggung jawab, dan kemampuan menemukan solusi permasalahan dengan diajak berdialog dari hati ke hati. 

Pengalaman hidup sehari-hari pun menjadi penting, dan menjadi sarana belajar yang berharga, yang darinya diperoleh nilai-nilai dan prinsip-prinsip tentang makna kehidupan. Para pendidik yang dikisahkan dalam hal ini mencoba menginternalisasikan nilai-nilai positif kehidupan yang bersifat abstrak melalui bahasa dan cara-cara yang sederhana. 

Tempat belajar tak terbatas ruang dan waktu. Alam dan seisinya menjadi buku untuk mengeksplorasi mahakarya Sang Pencipta. Tak hanya di kelas, tapi juga di luar kelas. Anak-anak yang menjadi murid mengekspresikan dirinya dengan caranya masing-masing. Mata pelajaran tak terbatas kurikulum yang padat dan berat. Guru-guru telah menjadi sahabat tempat bertukar pikiran dan tempat bertanya apa saja yang ingin mereka tahu. 

Anak-anak bisa menjalani hari-harinya di tempat belajarnya dengan bahagia, tanpa merasa tertekan dengan kewajiban ini itu layaknya sekolah formal pada umumnya. Mereka belajar kapan saja mereka mau dan belajar apa saja yang mereka ingin tahu. 

Begitupun murid-murid di lembaga non formal Al-Istiqomah Mustika Jaya, Bekasi , Jawa Barat. Prinsip lembaga yang memerdekakan anak, yang diwujudkan dengan membebaskan anak menjadi dirinya sendiri, sungguh menjadi tantangan tersendiri bagi para guru. Materi tak selalu taat kurikulum. Anak-anak yang menjadi murid di lembaga itu bebas mengekspresikan dirinya. Tak ada paksaan bagi mereka untuk belajar hingga mereka siap secara psikologis, tentunya tak luput dari norma adab kesopanan, apalagi lembaga tersebut lembaga pendidikan agama.

Seperti dikisahkan pengalaman seorang guru di lembaga tersebut, guru yang menjadi pendamping dan pembimbing murid-muridnya. Rasa lelah dan kepentingan pribadinya mungkin sudah tak lagi dihiraukan demi sebuah cita-cita menjadikan murid-muridnya sebagai generasi penerus yang tak hanya cerdas akal, tapi juga luhur budi. Berikut tulisannya yang kami terima di redaksi jatiluhuronline.com :

Saya A. Indriawati, nama panggilan saya bisa juga dengan nama Ririn, nama panggilan yang biasa diucapkan nenek saya dari sejak kecil sekaligus sebagai nama sapaan akrab oleh teman-teman.

Pada tahun 2010 saya mulai mengajar di suatu lembaga pendidikan agama, tepatnya yayasan kecil di daerah Mustika Jaya Bekasi Jawa Barat yangg bernama 'REFISI' beranggotakan anak-anak usia SD, SMP dan SMA. Refisi adalah Remaja Fitrah Silaturahmi, namun bukan sekolah formal. Rata-rata mereka adalah anak-anak yang tergolong kurang mampu dan yatim. 

Disana saya mengajar bahasa inggris, sekaligus memberikan motivasi  dalam pergaulan bagi mereka, pengembangan karakter anak, cara attitude pada orang tua, keluarga dan lingkungan.

Saya mengajarkan mereka sampai selesai tamat sekolah formalnya, dilanjutkan sampai sekarang tahun 2019 oleh adik-adik mereka yang kini nama dan tempatnya sudah berubah menjadi Majlis Ta'lim Al-Istiqomah dengan pengasuh yang sama Bapak. Ust. Faturahman. 

Di Majlis Al-Istiqomah, saya berusaha  mengajarkan mereka dengan visi agar hidup mereka lebih bermanaat dikemudian hari sampai akhir hayat, berharap keberkahan senantiasa terus menghampiri . 

Manusia sebagai makhluk sosial, disatu sisi kita dituntut untuk tetap saling tolong menolong  dalam hal kebaikan, dan bagi mereka anak-anak yang saya didik menjadi bahan evaluasi bagi saya, ketika kehidupan mereka membutuhkan pendidikan yang layak serta dapat berkembang di masa depan mereka, adalah menjadi suatu kewajiban bagi saya untuk mendidiknya agar mereka lebih kuat, sabar, serta terlatih dalam mencapai kesuksesan dunia akhirat. 

Walaupun hal itu terkadang suatu hal yang tak mudah bagi saya, namun tidak ada kesuksesan yang hakiki dari buah kesabaran dan perjuangan kalau tanpa didasari niat ibadah karena-Nya. Saya hanya menjalankan amal dengan apa yang ada pada diri saya yang telah Allah SWT titipkan.

Sedangkan misi saya hanya mengabdi karena-Nya, lembaga Al-Istiqomah sangat sederhana sekali sangat jauh di bandingkan dangan pendidikan formal lainnya. 

Salah satu proses pembelajaran yang saya terapkan di lembaga tersebut dengan metode menggambar atau visual, anak-anak membuat sebuah gambar sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran dan imajinasinya, artikulasi gambar yang mereka buat sendiri adalah manifestasi dari gambaran jiwa mereka sendiri, apa yang sudah diperoleh dari lingkungan dan pengalamannya itu terwakilkan dari gambar tersebut.

Selain itu, metode bernyanyi seperti dalam ejaan atau speeling, nama pribadi atau nama benda, dalam bahasa inggris, atau melalui seni budaya dan pengenalan sejarah seperti yang sudah kami lakukan setiap tahunnya dengan mengadakan program pertengahan tahun dengan study tour tentang pengenalan peradaban dan sejarah pada salah satu museum bersejarah TNI AD yaitu Museum Peta di Bogor Jawa Barat. 

Saya menyadari, menjadi seorang pendidik atau guru itu bukan suatu hal yang mudah, butuh kesabaran, keikhlasan, perjuangan, kreatifitas dan komitmen yang kuat dalam mendidik anak-anak. 

Tugas seorang guru itu mulia, dan itu bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya untuk orang yang secara akademis berpendidikan tinggi di lembaga formal, namun non formal pun bisa dilakukan. Termasuk saya sendiri yang bergelut dibidang pendidikan non formal. 

Semoga niat baik kita dalam mendidik generasi umat menjadi ladang amal disisi-Nya serta keberkahan terus menghampiri dalam menjalankan tugas sebagai hamba-Nya, serta selamat dunia akhirat. Semoga tulisan ini bermanaat.
________________________
Penulis : A.Indriawati
Editor : Kang Mul

Bagi para pemaca yang mau menyumbangkan tulisannya seputar pendidikan, sosial, budaya, politik, hukum bisa anda dikirimkan melalui e-mail : jatiluhuronline@gmail.com


SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

ads