Pemimpin, Pelayannya Masyarakat


PEMIMPIN merupakan orang yang diberi amanah untuk memimpin orang-orang yang dipimpinnya. Kedudukannya begitu mulia, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT. Mengapa? Karena hanya segelintir orang saja yang mampu menjadi pemimpin. Tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa menjadi pemimpin itu dapat pula bernilai jelek di mata manusia bahkan di mata Allah. Karena banyak orang yang terjebak dengan status kedudukan tertinggi yang dipegangnya itu.
Tahukah Anda, bahwa jika Anda sudah siap dan yakin untuk menjadi pemimpin, maka Anda pun harus siap melayani orang-orang yang Anda pimpin. Mengapa? Karena seorang pemimpin itu pelayan masyarakat.
Dalam hadis riwayat Ma’qil bin Yasar dari al-Hasan, ia mengabarkan bahwa ‘Abdullah bin Ziyad telah mengunjungi Ma’qil bin bin Yasar ketika sakitnya yang menjadikan kematiannya, lantas Ma’qil mengatakan kepadanya, “Saya sampaikan hadis kepadamu yang aku dengar dari Rasulullah SAW, aku mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah untuk memimpin suatu rakyat, lalu ia tidak menidaklanjutinya dengan baik, melainkan ia tak akan mencium bau surga’,” (Shahih al-Bukhari hadis no. 6617).
Sungguh berat beban yang dipikul oleh seorang pemimpin. Bahkan, ketika ia tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga banyak orang yang menderita karenanya, maka Allah tidak akan memberikan kesempatan padanya untuk mencium bau surga. Naudzu billah.
Salah satu contoh pemimpin yang benar-benar melayani rakyatnya dengan baik ialah Umar bin Khaththab. Pernahkan Anda mendengar suatu kisah tentang beliau yang mengatakan bahwa beliau adalah salah seorang yang selalu berkeliling di malam hari, ke setiap rumah? Ya, beliau melakukan itu hanya untuk memastikan bahwa rakyatnya dapat tertidur dengan nyenyak.
Suatu ketika beliau melewati suatu rumah yang ternyata orang pemilik rumah itu tidak tertidur dengan nyenyak. Terlihat seorang anak yang menangis karena rasa lapar yang dirasakan. Ibunya, mencoba menenangkan anak itu, agar ia bersabar menunggu masakan yang ia masak itu matang. Tapi, masakan itu tak kunjung matang. Sehingga, rasa lapar yang dirasakan anak tersebut tak terelakkan lagi.
Melihat hal itu, Umar menghampiri mereka, seraya menanyakan keadaan mereka. Terlihat masakan yang dimasak oleh ibu tersebut, beliau langsung membuka masakan itu dan ternyata isinya adalah sebuah batu. Hati beliau begitu terpukul melihat keadaan rakyatnya yang merasakan penderitaan. Tanpa beripikir panjang, beliau mengambil makanan untuk mereka. Yang luar biasa ialah, beliau memikul sendiri makanan itu bagi mereka. Subhanallah.
Seperti itulah cerminan dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak akan merasakan nikmatnya tidur pulas di atas ranjang yang empuk nan mewah, jika rakyatnya tidak dapat tertidur akibat kondisi yang tidak nyaman. Inilah tugas seorang pemimpin, melayani rakyat dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan. Segala sesuatu ia lakukan hanya demi kesejahteraan rakyat.
Cerminan dari seorang pemimpin yang baik, ialah ia yang rela tidak makan hanya agar rakyatnya dapat makan. Tapi, pemimpin yang bijaksana ialah pemimpin yang rela berbagi makanan dengan rakyatnya, walau ia harus mendapat jatah yang sedikit. Mengapa dikatakan bijaksana? Karena walau bagaimana pun kondisi diri sendiri itu pun harus diperhatikan. Jadi, antara memikirkan kondisi dirinya dan kondisi rakyatnya mestilah berjalan beriringan. [islampos]

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

close