Kemendikbud: Sekolah taman pendidikan yang nyaman dan menyenangkan

Gambar Ilustrasi siswa /antarafoto
JATILUHURONLINE.id - PENDIDIKAN, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Anies Baswedan menyatakan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk siswa, sesuai dengan konsep yang dibuat Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara yang juga pendiri Taman Siswa. "Ki Hadjar Dewantara menyebut sekolah dengan istilah taman. Taman merupakan tempat belajar yang menyenangkan. Anak datang ke taman dengan senang hati," kata Anies saat peringatan Hari Pendidikan Nasional, di Gedung Kemendikbud, Sudirman, Jakarta Selatan (2/15).

Menurut Anies, ciri yang harus dimiliki sekolah agar menjadi tempat yang menyenangkan ialah menerapkan pembelajaran yang relevan di dalamnya. "Intinya pihak sekolah  harus sering bertanya pada murid mau dibuat seperti apa sekolah itu untuk menjadi lebih nyaman," ujarnya. Pengamat pendidikan sekaligus Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan, Andreas Tambah, menyatakan hal yang sama. Menurutnya, sudah saatnya cara pembelajaran kembali kepada konsep yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan, menurutnya, harus dibuat senyaman mungkin.

Konsepnya antara lain merekatkan hubungan guru dengan murid. "Dalam hal ini guru dapat berperan sebagai orangtua bagi anak-anak saat di sekolah," ujarnya. Selain itu, menurut dia, guru harus punya sifat mengayomi bukan sekadar pintar secara akademik."Jadi, guru tidak bisa sembarangan. Kalau hanya jago mengajar, tidak ada bimbingan bagi murid selesai pelajaran, ya percuma," tegasnya. Untuk membuat sekolah nyaman dan menyenangkan, Andreas juga menyarankan jumlah siswa dalam satu kelas tak terlampau banyak.

Menurut dia, selama ini terutama di sekolah negeri, jumlah siswa kerap berlebih, sedangkan tenaga guru sangat sedikit. "Di sekolah itu rasio pengajar dengan siswa sebaiknya ialah satu banding sepuluh." Dari segi fasilitas, Andreas menyarankan sebaiknya ada ruang yang lebih luas bagi murid untuk bersosialisasi dan bermain. "Kebanyakan sekolah hanya meninggikan bangunan. Saya kira itu kurang efektif," ujarnya. [mediaindonesia, antara/*]

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

close