Komunitas BUS, Butuh Perhatian Pemkab Karawang

Karawang, Jatiluhuronline - Suasana ramai di areal tugu proklamasi, Rengasdengklok Kabupaten Karawang. Hal ini menjadi rutinitas setiap sore, terlebih di akhir pekan. Masyarakat yang berkunjung menikmati suasana sore di area tersebut, dari mulai anak-anak sampai orang dewasa. Keramaian ini juga dipenuhi berabagai komunitas anak muda. Masing-masing mereka menampilkan ekpresi kreatifnya.

Dari komunitas parkour menampilkan gaya loncat-loncatnya yang has, komunitas motor mengekpresikan gayanya seni jumping, dan lain-lain. Hal ini perlu perhatian khusus untuk menyalurkan bakat masing-masing mereka. Agar mereka punya wadah untuk mengekspresikan kreasinya, juga antisipasi terjadinya kecelakaan yang menimpa anak-anak yang bermain di sekitar itu.

Pasalnya area tugu proklamasi tersebut tidak hanya dikunjungi para anak muda yang menggabungkan diri dalam komunitas. Anak-anak kecil juga berkeliaran di sekitar itu. Sangat dikhawatirkan ketika terjadi kecelakaan pada komunitas motor yang mengekspresikan gayanya itu akan mengenai anak-anak yang berlarian di sekitar itu. Terlebih tidak ada pengamanan apa-apa.

Kekhawatiran ini timbul dari rasa pedulinya penyaluran bakat-bakat masing-masing anak muda. Seperti yang dikatakan Avep, ketua BUS (Berbagi Untuk Sesama) yang saat itu sedang kerja bakti bersama kawan-kawannya, kepada Jatiluhuronline Sabtu (09/05) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap keamanan anak-anak yang berkeliaran di sekitar itu.

“Kita perlu apresiasi anak-anak muda yang menggabungkan diri dalam komunitas motor, mereka kreatif dan berbakat. Karenanya perlu ada tempat khusus untuk mengekspresikan gaya dan bakatnya tersebut. Guna tidak terganggu dengan kerumunan orang lain. Begitupun orang lain juga tidak terganggu oleh ekspresi mereka,” ujar Avep.
Menurut Avep pula, perhatian khusus dari pemerintah sangat-sangat diperlukan. Pemerintah sangat berperan besar dalam memajukan dan mundurnya generasi muda, karena pemerintah lah yang seharusnya memfasilitasi wadah anak-anak muda itu. Guna menyalurkan bakat-bakatnya.

“Kami rakyat biasa, hanya bisa bersaran. Dan tidak bisa memenuhi fasilitas para anak muda yang menggabungkan diri dalam komunitas, guna menunjang kreativitas mereka,” pungkas Avep. (AR/***)

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

close