Cerita Kerasnya Kehidupan Penjara Mantan Narapidana

Gambar ilustrasi
Jatiluhuronline - Subang, Nakula (42) mantan narapidana penghuni Lapas Kelas IIA, ia divonis atas kasus kepemilikan senjata api ilegal, dan bandar narkoba 2 tahun silam. Pernah merasakan bagaimana kerasnya kehidupan di dalam penjara, dan merelakan hidup dalam sel tahanan selama 3 tahun lamanya. Dalam sebuah perbincangan, Kamis (02/07) dengan Jatiluhuronline, ia bercerita dengan gamblang.

Bagaimana ia bisa jadi Target Operasi (TO) aparat, hingga masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dan akhirnya dibekuk disebuah kawasan industri secara dramatis. Beberapa peluru bersarang ditubuhnya, dengan bekas luka masih terlihat di dada dan perut. Belum lagi pukulan dan siksaan aparat, selama ia berkeliling untuk menunjukan teman-temannya. Namun semua ia telan dan rasakan, satupun tidak ada yang menjadi korban susulan, hanya dirinya sendiri masuk penjara.

“Kehidupan didalam (penjara) benar-benar seperti hutan rimba, siapa kuat dan berwibawa, dialah yang berkuasa. Saya dari mulai jadi kepala blok, memimpin beberapa orang yang turut serta jadi geng, hingga akhirnya jadi kepala keamanan (palkam). Seluruh anak buahnya menjadi kepala blok, barulah bisa merasa nyaman mengendalikan seluruh narapidana penghuni lapas, dan bekerja sama dengan sipir.” Kata Nakula (nama samaran).

Dijelaskannya, setiap ada warga baru penghuni lapas, kepala blok anak buahnya melapor kepadanya dan langsung memberi orientasi ala penjara. Hal yang lazim didalam penjara menurut mereka, namun tidak dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia. 

Semua berlalu tanpa ada rasa kasihan dan iba, semuanya bagian dari tradisi kehidupan penjara. Warga barupun tidak bisa berbuat banyak, selain mengikuti aturan yang ada, pasalnya semua warga binaan lapas lama pernah merasakan hal seperti itu.

“Orang baru masuk, pasti kita tanya. Mau tidur dilantai, dikasur, atau gratis. Kalau mau tidur gratis, ya di dalam kamar mandi atau wc. Pengen enak tidur dilantai, harus bayar, apalagi tidur dikasur, tahu sendiri?” imbuh Nakula

Pernah suatu ketika, ada warga baru masuk. Ia suruh anak buahnya, membersihkan lantai dengan cara dijilati. Ia dan kawan-kawannya lupa, kalau lantai tersebut baru saja dibersihkan dengan cairan pembersih yang menganndung bahan kimia. Selang dua hari kemudian, orang tersebut meninggal. Hasil visum dan autofsi, warga binaan tersebut, dinyatakan meninggal karena minum racun pembersih lantai.

“Saya sempat merenung dan mengingat kejadian itu sampai sekarang, masih ada trauma mendalam dihati juga pikiran. Untungnya, tak lama setelah kejadian itu saya bebas walaupun bersyarat. Saya ingin mengarungi hidup baru, bersama anak istri dan cucu. Mudah-mudahan apa yang telah saya alami, jangan pernah di ikuti siapapun, termasuk anak dan cucu.” Pungkasnya mengakhiri pembicaraan siang itu. (***)

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

close