Said Aqil Siraj : Jangan bergandengan tangan berkelompok untuk menghancurkan negara

KH. Agil Siraj [photo/lip.6]
Jakarta, Jatiluhuronline - Menyikapi isu Pembakaran Bendera Tahuid yang baru-baru ini marak diperbincangkan dikalangan umat muslim Indonesia. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU, tidak menganjurkan bagi umat Islam untuk ikut turun ke jalan menggelar 'Aksi Bela Kalimat Tauhid'.
Menurut Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj, sebaiknya masyarakat mengambil hikmah atas terjadinya pembakaran bendera berlafaz tauhid oleh tiga oknum anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Garut beberapa waktu lalu.
"Kalau kami, PBNU, mengajak semua bahwa itu pelajaran yang pahit, tapi berharga. Kita ambil hikmatnya, jangan sampai terulang. Ini harus jadi contoh, jangan sampai terulang. Mari kita bersatu untuk kebaikan, jangan sampai bersatu untuk perpecahan dan permusuhan," kata Said di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis 25 Oktober 2018, seperti dikutif di media online viva.
Menurut Said, apa yang dilakukan anggota Banser itu hanya mengetahui bendera yang muncul pada Hari Santri ialah simbol Hizbut Tahrir Indonesia, organisasi yang dilarang oleh pemerintah.
Ia juga berpesan, isu sensitif seperti ini akan justru dimanfaatkan segelintir pihak di tengah momentum kontestasi politik.
"Jangan bergandengan tangan berkelompok untuk menghancurkan negara ini untuk hal-hal yang negatif. Itu pesan Alquran," kata dia.
Sebelumnya, organisasi yang menamakan diri Laskar Pembela Islam (LPI) se-Jabodetabek berniat menggelar aksi demonstrasi bertajuk "Aksi Bela Kalimat Tauhid", besok, Jumat 26 Oktober 2018.
Rencananya, aksi akan digelar pada pukul 13.00 WIB sampai selesai. Mereka akan melakukan long march dari Masjid Istiqlal, Patung Kuda, sampai di Kantor Menko Polhukam. (MM)

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER

close