Air Mancur Sribaduga Tak Beroperasi, Pedagang Kecil Mengeluh dan Wisatawan Berkurang

Purwakarta, Jatiluhuronline.com - Penghentian Taman Air Mancur Sri Baduga Purwakarta berdampak pada menurunnya hasil penjualan dari para pedagang kecil dan wisatawan berkurang.

Para pelaku Usaha Kecil Menengah mulai mengeluh pendapatan mereka menurun, sebab mereka biasa berjualan di sepanjang jalan sekitar kawasan Situ Buleud pada malam hari setiap akhir pekan. 

"Yang namanya ikon itu harus dipertahankan dalam segala cuaca," kata Ketua International Council for Small Business Purwakarta, Nicolaas Johannes Loen, seperti dikutip dari pikiran-rakyat.co.id. Kamis, (1/7/2019) 

Nicholas mengaku banyak menerima keluhan dari para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), karena sebagian besar pengunjung yang datang ke lapak dagangannya merupakan pengunjung taman air sribaduga.

"Banyak sekali wisatawan yang datang karena ingin melihat air mancur tapi tidak tahu berhenti beroperasi. Mereka kecewa," kata Nicolas.

Untuk itu, ia meminta Pemkab Purwakarta kembali mengoperasikan Air Mancur Sri Baduga dan menyarankan mengambil air yang dibutuhkan dari Waduk Jatiluhur. 

Meskipun diakui memerlukan biaya yang besar, tapi ia meyakini dampaknya lebih besar terhadap perekonomian masyarakat lokal.

Sementara itu, Asisten Daerah Bidang Pemerintahan Hukum dan Kesejahteraan Rakyat Entis Sutisna mengakui, tidak beroperasinya air mancur terbesar se-asia tenggara itu akibat kurangnya debit air, mengingat saat ini sudah memasuki musim kemarau.

"Penyusutan airnya cukup parah mungkin sampai setengahnya," katanya pada saat acara Gelar Pesona UMKM Purwakarta pekan lalu.

Kondisi tersebut dinilai tidak memungkinkan untuk mengoperasikan mesin, bahkan dikhawatirkan terjadi kerusakan apabila tetap dipaksakan beroperasi.

"Narik air dari Waduk Jatiluhur itu mahal. Kami belum pernah melakukan itu karena jaringannya belum ada," kata Entis. 

Ke depannya, lanjut Entis, ia berharap Taman Air Mancur Sri Baduga bisa dikelola pihak swasta agar bisa tetap beroperasi secara mandiri.

Selain itu, Entis mengakui penghentian sementara air mancur akan berdampak pada kurangnya pendapatan para pedagang, khususnya yang beroperasi di festival wisata kuliner akhir pekan. Namun, ia juga tidak bisa mengupayakan untuk mengoperasikan air mancur tersebut.

Ia menyebutkan jumlah penonton pertunjukan air mancur mencapai lebih dari 50 ribu orang per malam. Namun, setelah air mancur berhenti beroperasi, Entis memperkirakan jumlah pengunjung ke kawasan Situ Buleud berkurang hingga 50 persen. (pr/jto/ab)

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER